Ditemukan BBM Sintetis

SEGERA DIPRODUKSI ‘MINYAK INDONESIA BERSATU’; Ditemukan BBM Sintetis

Berbahan Baku Air 30/11/2007 10:53:27 SOLO (KR)- Menyusul cadangan bahan bakar minyak atau BBM alam kian menipis, kini dijajagi pembangunan pabrik pembuatan BBM sintetis berbahan baku air. “Dalam skala laboratorium, kami sudah mampu memproduk BBM berbahan baku air dan hingga kini sudah menjalani serangkaian uji coba, baik dari sisi kualitas maupun gas buang akibat pembakaran energi yang tak pernah habis ini,” ujar Heru Lelono, Sekretaris Umum Gerakan Indonesia Bersatu (GIB), kepada wartawan di Solo, malam Kamis(29/11) . Bahkan, hasil temuan sekumpulan anak bangsa yang bergabung dalam GIB bekerja sama dengan Sarana Harapan Indocorp itu akan dipamerkan dalam Forum United Nation Framework for Climate Change Conference (Konferensi Pemanasan Global), di Bali 3-14 Desember nanti. Dalam kaitan pameran itu pula, sekaligus wahana uji coba, BBM sintetis yang diberi nama Minyak Indonesia Bersatu (MIB), digunakan untuk bahan
bakar puluhan mobil aneka merk dan jenis, menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bali.
Satu hal yang menggembirakan, jelas Heru yang juga staf khusus Presiden Susilo Bambang Yuhoyono, MIB yang digunakan sebagai bahan bakar kendaraan untuk menempuh perjalanan Jakarta-Bali, sebagian diolah dengan memanfaatkan bahan baku air Lapindo. Ternyata, kualitas MIB berbahan baku
air Lapindo relatif lebih baik, selain pula biaya produksi lebih murah dibanding menggunakan bahan baku air biasa ataupun air laut. Itu berarti, air Lapindo yang hingga kini masih menimbulkan persoalan berkepanjangan, akan bisa terpecahkan dengan sendirinya, manakala dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan BBM sintetis. Karenanya, rencana pembangunan pabrik BBM sintetis yang semula diarahkan di daerah Lamongan, Jawa Timur, menurut Heru, akan dialihkan ke daerah sekitar Pasuruhan. Tiga Pabrik Rencananya, GIB akan membangun tiga pabrik pengolahan MIB di tiga lokasi,
masing-masing Jakarta yang rencananya berkapasitas produksi 350 ribu barel per hari, Purworejo dengan kapasitas 100 ribu barel per hari, serta Pasuruhan dengan kapasitas 150 ribu barel per hari. Diproyeksikan, pembangunan pabrik dimulai 2008 dengan perkiraan investasi sebesar Rp 20
triliun. Dengan produksi sebesar itu, diperkirakan akan mampu memenuhi 40 persen dari total kebutuhan minyak dalam negeri. Energi biru MIB, jelasnya, saat ini telah menjalani ujites di tiga laboratorium internasional, yakni Corelab, Inverrolab, dan SGS, dengan hasil tingkat pembakaran MIB sangat sempurna, termasuk gas buang dinyatakan ramah lingkungan. Demikian halnya berdasar ujicoba tingkat keiritan pemakaian bahan bakar, diketahui MIB lebih hemat ketimbang BBM fosil. Sebagai gambaran dia menyebut, satu liter MIB yang digunakan untuk bahan bakar mobil jenis Ford Ranger, mampu menempuh perjalanan sejauh 15 kilometer, sedangkan BBM fosil hanya mencapai 8 kilometer. Pada prinsipnya, MIB sama persis dengan BBM fosil yang selama ini dikenal masyarakat, seperti premium, solar ataupun minyak tanah. Yang membedakan adalah, BBM fosil diproduksi dengan
mengeksploitasi sumber alam yang suatu saat akan habis, sedangkan MIB diolah dengan memanfaatkan air yang sampai sekarang masih melimpah ruah.

Leave a Reply